
Amuntai – Membawakan kisah dengan judul “Gugur Kasih di Lu’uk Badangsanak, penampilan siswa SMKN 1 Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) membuat takjub dewan juri, peserta, dan penonton lomba teater pada Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) jenjang SMK tingkat nasional di auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Rabu (29/8).
Penampilan teater siswa SMKN 1 Amuntai juga membuat Ratna, salah satu juri sempat memberikan standing applause. Penampilan mereka juga membuat takjub serta merinding para penonton yang menyaksikan, seperti yang diungkapkan Chandra yang merupakan salah satu pembimbing peserta dari Papua Barat.
“Keren dan takjub. Ini membuat saya sempat merinding dan minder karena sehari sebelumnya sempat melihat persiapan yang dilaksanakan, dan saat menyaksikan penampilannya sudah bisa ditebak Kalsel akan juara,” ungkapnya.
Dalam ajang tingkat nasional kali ini, siswa SMKN 1 Amuntai membawakan kisah warisan budaya Kerajaan Nagara Dhipa yang merupakan cikal bakal Kerajaan Banjar pada abad 13 Masehi, dengan konsep penampilan yang bersandar pada teater tradisi Kalimantan Selatan yaitu mamanda, dipadukan dengan unsur-unsur seni dan budaya Kalimantan Selatan lainnya seperti basyair, wayang purwa Banjar, tari baksa kambang, kuntau, dan tari kuda gipang yang dipadukan dengan musik hidup dari gamelan banjar yaitu musik panting, serta kostum khas Banjar.
Diceritakan, kisah Kasih di Lu’uk Badangsanak sendiri merupakan peristiwa yang dipercaya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, yaitu tentang jalinan kasih terlarang antara putri raja Kerajaan Nagara Dhipa bernama Putri Junjung Buih dengan anak kembar Empu Mandasta yaitu Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga. Jalinan kasih terlarang itu diyakini sebagai dosa besar yang akan menyebabkan bencana bagi kerajaan, dan menurut Patih Lambung Mangkurat dosa itu harus segera dipalas atau dihapus dengan melakukan pengorbanan.
Melihat pengorbanan yang dilakukan kedua anaknya melalui pertanda layunya sekuntum kembang nagasari, Empu Mandastana dan sang istrinya pun kemudian menyusul kematian kedua anaknya dengan melakukan bunuh diri di telaga darah.
SMKN 1 Amuntai yang menampilkan secara apik kisah tersebut akhirnya dipercaya mewakili Kalimantan Selatan menjadi peserta FLS2N jenjang SMK tingkat nasional setelah sebelumnya menjadi penyaji terbaik 1 pada FLS2N tingkat provinsi Kalimantan Selatan. (Diskominfo/oellah/rizky/indah)
![]()




