
Amuntai – Seiring Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-46, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mencanangkan Gerakan Revolusi Hijau tingkat Kabupaten HSU, di Kawasan Candi Agung Amuntai, Selasa (17/7).
Menurut Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Lingkungan Hidup HSU, Rusnaidy, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup begitu cepat terjadi sehingga perlu aksi cepat untuk mengatasinya.
“Lahan kritis di Kalimantan Selatan mencapai 35000 hektar, perlu 20 tahun untuk melakukan penutupan lahan,” ujar Rusnaidy.
Menurutnya, selain masalah lahan kritis, permasalahan lingkungan juga terkait dengan sampah plastik yang sulit diurai oleh mikroorganisme.
“Jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara diperkirakan sebanyak 110 ton per hari, termasuk diantaranya sampah plastik,” katanya.
Diakuinya, saat ini pengelolaan sampah baru mencapai 40 persen karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Ia menambahkan, gerakan revolusi hijau yang dicanangkan Gubernur Kalsel perlu terus dilakukan seumur hidup demi kelangsungan hidup anak cucu, karena berdasarkan riset, setiap manusia membutuhkan sedikitnya tiga pohon besar untuk asupan oksigen setiap hari, sehingga jika jumlah pohon berkurang maka akan mengancam kelangsungan hidup manusia.
Aksi penghijauan ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas lahan yang kritis di Kalsel, dimana Indeks kualitas lahan di Kalsel menempati peringkat ke-24 di Indonesia.
Aksi Penghijauan seiring Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kabupaten HSU ini ditandai dengan penanaman sejumlah bibit pohon langka di Kawasan Candi Agung Amuntai, seperti bibit pohon Belangiran, Kastuti, Jelutung, dan Ulin.
Aksi penanaman dilakukan oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Forkopimda dan Komunitas hijau dari Kabupaten HSU dan Balangan. (Diskominfo/eddy/indah)
![]()




