KONFERENSI INTERNASIONAL INTAN-HANDIL 2026 DIGELAR, PEMKAB HSU TEGASKAN POLDER ALABIO JADI LABORATORIUM PERTANIAN LAHAN BASAH

BANJARBARU – Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) didukung penuh Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menggelar Konferensi Internasional INTAN-HANDIL 2026 yang berlangsung di Ballroom Grand Qin Hotel, Banjarbaru, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan ini menjadikan Revitalisasi Polder Alabio sebagai bahasan utama dalam upaya memajukan pertanian lahan basah dan infrastruktur dataran rendah berkelanjutan.
Turut hadir sebagai pembicara sejumlah pakar nasional dan internasional, antara lain Erik Reep Direktur Reep CIP BV dari Belanda, Prof. FX. Suryadi dari IHE Delft Institute for Water Education, Belanda, Prof. Dr. Dwi Andreas Santosa dari IPB, serta Dr. Mishima Yuichiro dari Universitas Saga, Jepang.
Wakil Bupati HSU Hero Setiawan membacakan sambutan tertulis Bupati HSU H. Sahrujani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan.
Ia menegaskan konferensi ini bukan sekadar membahas teknologi dan infrastruktur, melainkan menyentuh langsung masa depan masyarakat yang hidupnya bergantung pada ekosistem lahan basah.
“Kami memandang Polder Alabio dapat menjadi laboratorium nyata pembangunan pertanian lahan basah tropis bukan hanya untuk HSU, bukan hanya untuk Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki karakteristik serupa,” ujar Hero Setiawan mewakili Bupati.
Mengusung tema “Advancing Sustainable Wetland Agriculture and Lowland Infrastructure through Innovation, Hydrodynamic Engineering, and Global Collaboration”, konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah nyata pembangunan berkelanjutan kawasan lahan basah.
Dengan luas sekitar 6.000 hektar, Polder Alabio menopang pertanian, perikanan, hingga beragam kegiatan ekonomi masyarakat.
Bupati HSU menekankan kawasan ini bukan sekadar infrastruktur tata air, melainkan satu kesatuan sistem kehidupan yang mengaitkan air, lahan, pangan, ekonomi, lingkungan, budaya, dan tatanan sosial sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja.
“Tantangan Polder Alabio mencakup pengelolaan banjir, tata kelola air, kualitas air, hingga pemantauan hidrologi berbasis data. Diperlukan kerja sama lintas sektor: pertanian, pekerjaan umum, perikanan, lingkungan hidup, pendidikan, riset, dan teknologi digital. Juga tak kalah penting: pengetahuan serta pengalaman masyarakat lokal,” kata Wabup Hero Setiawan
Konferensi ini diharapkan menjadi jembatan yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dunia usaha, dan kearifan masyarakat. Selaras visi HSU Bangkit Hulu Sungai Utara Berkeadilan, Unggul, dan Kreatif sebagai pusat agrominapolitan penopang Kalsel, Pemkab HSU telah menetapkan 21 program prioritas terkait, antara lain sistem pertanian terintegrasi, pengembangan Itik Alabio, konservasi rawa, Pasar Induk regional, serta penguatan produk unggulan daerah.
“Seluruh agenda ini saling terhubung: pertanian butuh air, air butuh tata kelola, tata kelola butuh infrastruktur dan data, infrastruktur butuh inovasi dan teknologi, teknologi butuh SDM unggul dan semuanya bermuara pada kesejahteraan masyarakat serta kelestarian lingkungan. Inilah semangat yang kami dorong melalui HSU Bangkit,” paparnya.
Pemkab HSU menegaskan kesiapan membuka ruang kolaborasi luas dengan ULM, perguruan tinggi nasional maupun internasional, kementerian, Pemprov Kalsel, dunia usaha, lembaga penelitian, serta masyarakat.
“Kita ingin menjadikan Polder Alabio sebagai tempat bertemunya kearifan lokal, teknologi pertanian, rekayasa infrastruktur, serta partisipasi masyarakat dari lokal hingga global,” pungkasnya.
Rektor ULM, Dr. Iwan Alfanie, menyambut baik kegiatan ini dan berharap konferensi melahirkan terobosan tepat dalam pemanfaatan lahan basah, khususnya di Kabupaten HSU.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap pengelolaan lahan rawa lebak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta berdampak positif bagi pembangunan daerah di Kalimantan Selatan,” ucapnya.
Sementara saat membuka kegiatan, Gubernur Kalsel yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Politik Adi Santoso, menegaskan Pemprov Kalsel berkomitmen mendorong pembangunan pertanian lahan basah yang produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Ia menekankan kebijakan harus berbasis data hasil penelitian agar tepat sasaran.
“Kami berharap konferensi ini menghasilkan rekomendasi yang dapat segera ditindaklanjuti, terutama untuk revitalisasi Polder Alabio, sehingga menjadi rujukan resmi bagi Pemkab HSU, Pemprov Kalsel, kementerian, hingga perguruan tinggi,” katanya.
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Bupati HSU Hero Setiawan, Sekretaris Daerah HSU Adi Lesmana, para kepala SKPD di lingkungan Pemkab HSU, akademisi, mahasiswa, serta undangan lainnya.
Konferensi ini menjadi wadah kolaborasi lintas bangsa dan disiplin ilmu, mendorong inovasi, rekayasa hidrodinamika, serta kemitraan global demi ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan kawasan lahan basah.(MC HSU/Wahyu-Febri)
Editor Wahyu




