
AMUNTAI – Di tengah gempuran gawai dan permainan modern, seorang anak berusia 12 tahun asal Hulu Sungai Utara (HSU) membuktikan bahwa mengisi waktu luang dengan kegiatan positif bisa membuahkan hasil yang membanggakan.
Adalah Syakira Nur Afifah, murid kelas 5 Sekolah Dasar (SD), yang kini sukses menjadi pengrajin muda anyaman eceng gondok.
Ketertarikan Syakira pada dunia anyaman sejatinya bukan hal baru. Ia sudah mulai mengenal teknik menganyam sejak duduk di bangku kelas 1 SD.
Di bawah bimbingan langsung orang tuanya yang juga merupakan pengrajin, Syakira awalnya hanya sekadar hobi dan senang-senang mengisi waktu kosong.
Namun siapa sangka, ketekunan yang ia jaga selama bertahun-tahun kini mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Menariknya, aktivitas ini ia lakukan tanpa mengorbankan kewajibannya belajar maupun waktu bermain layaknya anak-anak seusianya.
”Kebanyakan produk yang Ulun buat berupa tas,” ujar Syakira dengan rendah hati saat ditemui sedang asyik menganyam di stand Apindo, Sabtu (25/4/2026).
Hingga saat ini, Syakira telah menghasilkan ratusan produk kerajinan. Bahan baku eceng gondok yang melimpah di wilayah HSU dimanfaatkannya dengan maksimal menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.
Hebatnya lagi, Syakira kini sudah bisa mengumpulkan uang hasil keringatnya sendiri dari penjualan karya-karyanya tersebut.
Aksi inspiratif Syakira ini mendapat perhatian khusus dari Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) HSU, Romeir Emma Ramadayanti Revilla. Saat mengunjungi stand, Emma memberikan apresiasi tinggi dan menyebut Syakira sebagai sosok penerus yang langka.
”Syakira adalah salah satu potret penerus yang langka. Di usianya yang masih sangat muda, tidak banyak anak yang mau beraktivitas di bidang kerajinan anyaman. Untuk itu, atas nama pribadi dan organisasi, kami akan mengawal aktivitasnya agar terus berkembang,” ungkap Emma.
Meski masih berusia belia, Syakira sudah melek teknologi dalam memasarkan produknya.
Selain melayani penjualan secara offline, ia juga merambah pasar digital melalui media sosial. Bagi masyarakat yang tertarik dengan hasil karyanya, bisa melihat koleksinya yang saat ini ada di stand Apindo HSU dan juga bisa melalui akun media sosial dengan nama Balimbur_ilung.
Kisah Syakira menjadi pengingat bagi generasi muda di HSU bahwa kekayaan alam lokal, jika dikelola dengan kreativitas dan ketekunan, dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan tanpa harus kehilangan masa kecil yang bahagia. (MC – HSU/RHN)
Editor Wahyu




