
Masyarakat Peduli Sungai (Melingai) Hulu Sungai Utara (HSU) ikuti Kongres Sungai Indonesia (KSI) III yang digelar di halaman eks Kantor Gubernur Kalsel di Banjarmasin, Rabu (1/11). Sejumlah pejabar tampak berhadir pada acara tersebut seperti Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, Wali Kota Banjarmasin Ibu Sina, serta diikuti sejumlah kementerian. KSI III sendiri dibuka oleh Sekda Provinsi Kalsel Abdul Haris Makki. Kongres Sungai Indonesia adalah Ruang Diskusi yang Efektif untuk mempertemukan seluruh komunitas sungai di setiap provinsi indonesia.
KSI yang pertama diselenggarakan di Banjarnegara Jawa Tengah, yang kedua diselenggarakan di Malang Jawa Timur dan yang ketiga ini diselenggarakan di Kalimantan Selatan tepatnya di Banjarmasin.
Kongres ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap kerusakan ekosistem dan terancamnya kelestarian sungai serta ketersediaan sumber bahkan ancaman bencana yang kapan pun bisa terjadi. Di arena kongres ini delegasi/komunitas di setiap daerah dapat menyampaikan kondisi keprihatinan sungainya masing-masing dan saling bertukar pikiran sehingga terciptanya suatu rumusan yang akan ditindaklanjuti.
Ketua Panitia KSI III Syaipul Adhar mengharapkan kongres sungai ini bisa menghilangkan perbedaan serta menyamakan visi pengelolaan sungai. “Peserta KSI III ini sebanyak 42 persen dari ikomunitas pencinta sungai, sisanya dari akademisi, birokrat, dan pers,” kata Syaiful saat pembukaan KSI III.
Syaiful berharap KSI IIII mampu menghasilkan keputusan cerdas, persoalan sungai jangan kebijakan parsial, tapi merupakan kebijakan prioritas.
Sementara itu Muhammad Afriaji utusan Melingai HSU mengaku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang memiliki rasa peduli terhadap sungai Indonesia. “Kami banyak sekali dapat ilmu juga pengalaman yang belum pernah kami dapatkan. Kami sepakat kalau kondisi sungai di Indonesia sangat memprihatinkan dan rata-rata di masing-masing daerah memiliki masalah sungai yang sama yaitu sampah”, ujar Afriaji. Menurut Afriaji tidak bisa dipungkiri bahwa sangat sulit sekali mengubah mindset masyarakat yang memang sudah terbiasa membuang sampah di sungai. “Semoga dengan adanya kongres ini kita dapat memecahkan masalah sungai yang sangat mengancam kita. Setidaknya masih ada orang-orang baik di dunia ini yang peduli terhadap sungai”, lanjut Apriaji (Diskominfo/tim).
![]()




