Minggu, 16 Agustus 2026
Umum

‎TETES AIR MATA DI PENGUKUHAN PASKIBRAKA HSU, SINTIA BELLA, ANAK YATIM YANG DIPELUK TIGA WANITA HEBAT

AMUNTAI – ​Suasana haru membaur di Aula Dr KH Idham Chalid saat momen pengukuhan anggota Paskibraka Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Sabtu (15/8/2026) malam. Di saat anggota Paskibraka lain melepas rindu dan memeluk erat keluarga mereka yang hadir, Sintia Bella hanya duduk tertegun sendirian. Siswi MA Bustanul Ulum asal Desa Rantau Karau Hilir, Kecamatan Babirik ini hadir tanpa didampingi sanak keluarga.

‎​Kesendirian Sintia menarik perhatian tiga figur penting HSU yang hadir dalam acara tersebut, Ketua TP PKK HSU Murniati Sahrujani, Ketua GOW HSU Mayang Melani Hero Setiawan, dan Ketua DWP HSU Mislena Marangkir Adi Lesmana.

Didorong naluri keibuannya, ketiga wanita tersebut spontan menghampiri Sintia dan memberikan pelukan hangat secara bergantian.

‎​Isak tangis tak tertahankan menyelimuti momen emosional tersebut ketika fakta menyedihkan terungkap.

Sintia merupakan seorang anak yatim yang selama ini tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan hidup bersama nenek tercintanya. Informasi dari pengasuh karantina memperjelas perjuangan sunyi yang dilalui Sintia selama masa pelatihan.

‎Sintia dikenal sebagai pribadi yang rajin dan taat beribadah. Namun, ada masa-masa yang membuat pengasuh dan rekan-rekannya terenyuh. Saat makan bersama, Sintia kerap terlihat canggung karena menu makanan yang disajikan terasa asing baginya sebuah gambaran betapa bersahajanya kehidupan yang ia jalani sehari-hari.

‎ “Kami mendapatkan info bahwa Sintia adalah anak yatim yang hidup bersama neneknya. Kehadiran kami di sini adalah bukti bahwa Sintia tidak sendiri dalam mengemban tugas mulia ini,” tegas Murniati Sahrujani mewakili ketiga tokoh wanita tersebut.

‎​Keterbatasan dan kurangnya kasih sayang orang tua tidak menyurutkan tekad serta rasa nasionalisme Sintia.

Dengan kemauan yang kuat, ia membuktikan diri layak berdiri tegak sebagai salah satu putri terbaik daerah yang mengemban amanah mengibarkan bendera pusaka. Pelukan hangat dan ikhlas dari para wanita hebat tersebut menjadi penegas bahwa kerja keras dan ketulusan Sintia diakui serta dicintai oleh masyarakat luas.
‎(MC HSU/RHN- TIM)

‎Editor Wahyu