Sabtu, 31 Oktober 2026
Budaya

‎SEMINAR DIGITALISASI SASTRA DORONG KARYA SASTRA KALSEL LEBIH MUDAH DIAKSES GENERASI MUDA

AMUNTAI — Seminar Digitalisasi Sastra menjadi bagian dari rangkaian Aruh Sastra Kalimantan Selatan ke‑23 yang digelar di Aula Karya Sadaya, Sabtu (31/10/2026).
‎
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dan bintang tamu nasional untuk membahas strategi memperluas jangkauan karya sastra daerah kepada generasi muda melalui media digital.
‎
‎Seminar menghadirkan Dr. Rusma Noortyani, Guru Besar Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Lambung Mangkurat, sebagai narasumber utama, serta Pratiwi Juliani, Ketua Yayasan Kusala Sastra Khatulistiwa sekaligus Direktur Kreatif, sebagai bintang tamu. Sesi diskusi dipandu oleh Dr. Hatmiyati Masy’ud selaku moderator.
‎
‎Dalam pengantarnya, Dr. Hatmiyati Masy’ud menjelaskan bahwa Aruh Sastra Kalimantan Selatan merupakan kegiatan tahunan yang mempertemukan seniman dan budayawan dari seluruh kabupaten/kota di wilayah Kalsel. Pada edisi 2026, perhelatan tersebut dilangsungkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara selama tiga hari, dari 30 Oktober hingga 1 November 2026.
‎
‎Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak malam sebelumnya dengan acara pembukaan yang dihadiri Bupati HSU, dilanjutkan dengan berbagai pagelaran seni. Selain Seminar Digitalisasi Sastra, peserta yang berasal dari 13 kabupaten/kota se‑Kalimantan Selatan juga mengikuti Seminar Mahalabio serta anjangsana ke kawasan Candi Agung.
‎
‎Pembahasan utama seminar berfokus pada transformasi karya sastra dari media cetak ke format digital, meliputi puisi, cerpen, dan novel yang dapat dipublikasikan melalui media sosial, platform daring, maupun buku elektronik.
‎
‎Pratiwi Juliani menegaskan digitalisasi sastra menjadi pintu masuk yang mudah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menghasilkan karya sastra tanpa harus langsung menerbitkan buku cetak.
‎
‎“Digitalisasi sastra ini membuka kesempatan bagi siapa saja, khususnya generasi muda, untuk mulai berkarya. Tidak harus menunggu menerbitkan buku, tetapi bisa dimulai dari tulisan sederhana yang dibagikan melalui media digital,” ungkapnya.
‎
‎Ia menambahkan karya sastra digital dapat dikemas lebih menarik dengan tambahan gambar dan video, sehingga menjangkau pembaca lebih luas, termasuk masyarakat di daerah yang memiliki keterbatasan akses buku cetak. Meski begitu, Pratiwi mengingatkan perlunya pendampingan orang tua untuk anak di bawah 17 tahun guna memastikan konten sastra digital yang diakses sesuai dengan batasan usia dan memberikan dampak positif.(MC HSU/Nata/FEBRI)
‎
Editor: Wahyu