
AMUNTAI – Masa pandemi Covid-19 belakangan ini, membuat banyak orang lebih peduli dengan kesehatan. Mengkonsumsi madu menjadi salah satu alternatif untuk menjaga agar imun tubuh terjaga.
Madu lebah kelulut, madu jenis ini sudah mulai tidak asing lagi namanya di masyarakat khususnya di Hulu Sungai Utara (HSU) tentang khasiatnya bagi kesehatan.
Noer Arief Afriandi salah satu warga di kelurahan Antasari Kecamatan Amuntai Tengah, mengaku mulai menggeluti budidaya madu kelulut dari tahun 2018 sampai sekarang, berawal dari coba-coba hingga mempelajari lebih dalam.
“Awal mulanya di tahun 2018 ada teman dari daerah lain yang mengajari dan menawarkan, saya penasaran dan mencoba beli, setelah itu saya tertarik untuk membudidayakannya, selanjutnya saya pelajari dari media sosial dan langsung mendatangi tempat budidaya lebah kelulut.” ujar Afri, Jumat (24/9/2021).
Arief menjelaskan, pembuatan budidaya madu kelulut, topping diletakkan di dalam potongan batang pohon pilihan berdiameter sekitar 35 sentimeter, panjang sekitar setengah hingga satu meter. Kemudian dibuatkan kotak kayu persegi menyesuaikan diameter batang kayu, untuk tempat lebah membuat sarang
Selain itu, perbedaan fisik sarang dengan lebah madu pada umumnya (Apis), sangat terlihat. Sarang lebah madu pesies Apis berbentuk heksagonal sedangkan sarang lebah Kelulut berbentuk seperti pot atau kendi bulat, melintang secara horizontal.
Semantara untuk pemasaran, Arief memanfaatkan media sosial untuk penjualan sedangkan untuk harga madu kelulut sendiri berbagai macam sesusai ukuran.
“Sampai saat ini saya sudah mempunyai kurang lebih 30 log atau sarang yang bisa menghasilkan 7 hingga 9 liter untuk setiap kali panen, sedangkan untuk memasarkan Madu Kelulut tersebut saya menjualnya melalui media sosial serta dibantu oleh rekan-rekan, untuk harga sangat bervariasi mulai dari ukuran 80ml dengan harga 50ribu, 150ml dengan harga 75ribu, 250ml dengan harga 120ribu dan untuk ukuran 500ml dengan harga 215ribu,. ucapnya.
Menurutnya, lingkungan sangat berpengaruh untuk mengembangkan madu kelulut harus terjaga keasriannya dan jauh dari polusi, baik udara maupun polusi suara, hal itu agar lebah tidak stress dan produksi madunya lancar.
Lebih lanjut ia menyampaikan, kedepannya akan terus membenahi dan mengembangkan sarang yang ada saat ini.
“Semoga nantinya bisa membuat semacam taman, di sekitar sarang-sarang lebah itu, jadi kalau ada orang datang bisa berekreasi sekaligus mendapatkan edukasi mengenai lebah madu kelulut, dan bisa menikmati madu dari sarangnya langsung.” tutup Afri. (Diskominfo/putra)
![]()




