
Amuntai – Di awal Ramadhan yang penuh berkah ini, Sekolah Guru Indonesia (SGI) kembali hadir menyapa para guru pembelajar di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dengan mempersembahkan sebuah workshop tentang Gerakan Bangga Jadi Guru.
Tema workshop kali ini adalah “Mendesain Kelas Model” yang diisi oleh tim trainer SGI Amuntai Tengah, didampingi oleh Trainer SGI Ades Marsela.
Menurut Ades Marsela, workshop tersebut bertujuan untuk meningkatkan gairah guru dalam belajar dan senantiasa bersemangat meningkatkan kompetensi keguruannya.
“Kelas merupakan salah satu hal yang penting untuk melancarkan proses belajar dan mengajar, karena di kelas itulah para siswa bisa mengekspresikan segala kemampuan yang ada dalam dirinya. Namun kelas seperti apa yang kira-kira bisa memfasilitasi perkembangan pengetahuan siswa? Bentuk kelas tidak selalu bersifat tradisional dengan bentuk yang sama saja, namun bisa juga diubah dengan berbagai bentuk yang lebih menarik agar pembelajaran tidak monoton,” jelas Ades.
Sementara itu, guru Reza Wahyu saat menyampaikan materinya mengatakan bahwa ada beberapa prinsip penataan Kelas Model, diantaranya visibilitas, aksesibilitas, fleksibilitas, keindahan, dan kenyamanan.
Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas adalah keleluasaan pandangan (visibilitas). Artinya, penempatan atau penataan barang-barang dikelas tidak menganggu pandangan siswa dan guru, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung.
Yang kedua aksesibilitas (mudah dicapai). Kesulitan siswa dalam menjangkau barang-barang yang diperlukan dalam pembelajaran tentu akan sering membutuhkan guru, dan itu hal yang merepotkan. Supaya hal tersebut tidak terjadi maka letakkan barang-barang yang dibutuhkan oleh siswa pada tempat yang mudah dijangkau.
Yang ketiga fleksibilitas (keluwesan). Barang-barang yang ada dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru. Jangan lupa kenyamanan ruangan kelas akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktivitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan adalah suhu di dalam ruangan apakah lembab atau panas, pencahayaan apakah terlalu gelap atau sangat terang (silau), serta kegaduhan di luar ruangan kelas.
Dan terakhir prinsip keindahan. Ruang kelas yang indah dan menyenangkan berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Selain itu ruangan kelas yang menyenangkan dapat meningkatkan pengembangan nilai keindahan pada diri siswa karena siswa melihat langsung model/contoh yang dilakukan guru dalam menata kelas.
Selain beberapa prinsip tersebut, seorang guru juga harus bisa menata bentuk tempat duduk agar siswa tidak bosan. Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam; ada yang satu tempat duduk dapat diduduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa.
“Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah diubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran agar pembelajarannya lebih efektif. Berikut beberapa bentuk tempat duduk: Formasi Huruf U, Formasi Corak Tim, Meja Konferensi, Lingkaran, Kelompok untuk kelompok, Workstation, Breakout Groupings, Susunan Chevron, Kelas Tradisional dan Auditorium”, pungkasnya.
Seiring dengan itu, Ades berharap setelah mengikuti workshop ini para guru bisa mendesain kelasnya senyaman mungkin dengan bentuk tempat duduk yang sesuai dan tidak monoton.
“Semoga guru-guru selalu bersemangat untuk belajar, bergerak, dan berbagi demi pendidikan Indonesia yang lebih baik,” harap Ades. (Diskominfo/SGI/indah)
![]()




